Selamat Datang di Rumah Kata Mata

Blog EntrySniper (Penembak Jitu) Jadi ImamJun 28, '08 12:14 AM
for everyone
Atas permintaan seorang blogger, untuk menceritakan tentang tempat persembunyian seorang sniper (penembak jitu) di atas kubah masjid Almadany. maka saya akan menceritakan kisah uniknya.

Beberapa bulan, wakil  presiden Yusuf Kalla berkunjung ke Universitas Negeri Padang. Tentu saja sebagai pejabat penting atau RI 2. beliau akan dikawal dengan ketat oleh pasukan khusus.

Kegiatan berlangsung di GOR UNP. tepat di depan GOR UNP ada sebuah masjid berlantai 2. Di sanalah terjadi persiapan sangat rahasia yang dilakukan suatu pasukan pengalamanan wakil presiden. Tidak banyak mayarakat sekitarnya yang tahu. Hanya saya dan beberapa teman saja yang tahu.

Salah satunya adalah kegiatan seorang sniper. Sniper itu terus berkeliling melihat masjid itu. Setelah itu ia minta izin untuk naik ke kubah kepada saya dan teman saya. Dan kami naik ke kubah itu bersama Sniper. Sniper itu tetap dari awal saya bertemu dengannya menyandang tas yang berisi senjata sniper. Katanya senjata ini tidak boleh lepas darinya. tetap berada ditangannya sebelum misi berakhir. saat terlihat oleh saya. sniper agak kesulitan naik karena geraknya terganggu dengan keberadaan senapannya. Saya tawarkan saya memegangnya. Namun, dia tidak mau.

Waktu magrib sudah masuk. Komandan sniper itu menyuruh sang sniper jadi imam. Saya terkejut. ternayat ia bagus dalam melafazkan ayat-ayat Alah. Tidak di sangakap 'pembunuh berdarah dingin" itu pandai mengaji.

Saya berpikir bahw sniper itu orang yang kejap tidak tahu agama. Namun, melihat itu pikiran itu berubah.

Setelah selesai shalat magrib. Saya tanya dari mana belajar mengaji. Ia menjawab,"Saya adalah mantan satri di sebuah pondok pesantren di pulau jawa."

Dia waktu kecil ingin jadi tentara.

Setelah selesai shalat isya. Cerita kami lanjutkan

ia pernah bertugas di Aceh. Dan saya tanya udah berapa yang ia bunuh. Namun, ia tidak pernah menjawab pertanyaan saya.

Saya ingat dengan Papa. Ia pernah bertugas di Timor-timur. Ketiga itu ia ikut bertemput melawan fretelin. Kata papa,"ia berhasil menembak satu orang pemberontak". Cerita papa waktu saya SD dulu.

Setelah lama "maota" saya baru tahu. Sniper itu bertugas di batalyon yang Papa pernah bertugas.  Kalau gitu dia adalah adik angkatan Papa.

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help